Sunday, May 5, 2013

OBAT-OBATAN YANG DIGUNAKAN DALAM PENATALAKSANAAN OSTEOPOROSIS


Pendahuluan
Pengobatan osteoporosis hingga saat ini masih jauh dari memuaskan. Pada umumnya baik para dokter yang mengobati maupun pasien osteoporosis sendiri masih banyak merasakan ketidakpastian apakah intervensi pengobatan yang diberikan akan dapat cukup meningkatkan massa tulang sehingga dapat mengurangi rasa nyeri dan kemungkinan terjadinya fraktur. Masalah ini terutama disebabkan oleh karena sebagian besar pasien osteoporosis simtomatik adalah penderita usia lanjut (usila) di atas 65 tahun di mana kecepatan turn over tulang pada kelompok ini telah menurun sehingga setiap usaha untuk menghambat resorpsi tulang atau meningkatkan formasi tulang akan memerlukan waktu yang cukup lama ini umumnya juga akan menimbulkan banyak efek samping dan sangat berpengaruh pada ketaatan berobat pasien.
Pengobatan yang diberikan pada pasien osteoporosis dalam usaha untuk meningkatkan masa tulang tidak selalu diikuti dengan perbaikan kekuatan mekanik tulang, terutama jika arsitektur trabekular tulang telah mengalami kerusakan.
Massa tulang yang hilang pada pasien osteoporosis umumnya sangat sukar untuk dapat dikembalikan dengan sempurna seperti sediakala. Dengan demikian dalam penatalaksanaan osteoporosis, selain usaha pengobatan untuk memperbaiki osteoporosis yang telah terjadi, tindakan pencegahan seharusnya diberikan terlebih dahulu jauh sebelum timbul gejala klinis osteoporosis.
Beberapa jenis hormon dan obat yang memiliki efek pada tulang dan digunakan dalam pengobatan osteoporosis dapat diklasifikasikan sebagai:
1.      Obat-obatan yang terutama bekerja dalam mengurangi atau mencegah terjadinya resorpsi tulang.
2.      Obat-obatan yang merangsang terjadinya formasi tulang.

Pencegahan Osteoporosis
Pencegahan osteoporosis adalah tindakan yang sangat penting dalam penatalaksanaan osteoporosis, karena hingga saat ini belum terdapat suatu regimen terapeutik yang telah terbukti dapat mengembalikan kehilangan massa tulang dengan sempurna pada pasien osteoporosis lanjut. Pencegahan osteoporosis dapat dibedakan menjadi pencegahan osteoporosis primer dan pencegahan osteoporosis sekunder.

1.      Pencegahan Osteoporosis Primer
Pencegahan osteoporosis primer merupakan usaha untuk mencapai kondisi puncak massa tulang (peak bone mass) yang optimal pada masa dewasa muda. Dengan tercapainya puncak massa tulang optimal pada masa dewasa muda, osteoporosis yang mungkin timbul pada usia tua akan lebih ringan.
Pada umumnya puncak massa tulang akan tercapai pada usia antara 16 sampai 40 tahun, dimana kemudian akan terjadi peningkatan turn over tulang yang menyebabkan terjadinya kehilangan massa tulang secara bertahap antara 2-3% setiap tahun. Kecepatan turn over tulang akan menurun kembali setelah 10 tahun pasca menopause atau sekitar usia 65 tahun. Faktor penting yang menentukan puncak massa tulang adalah faktor genetik dan konstitusional, status hormonal, asupan kalsium serta aktivitas fisik.
Karena faktor genetik dan konstitusional seperti ras, jenis kelamin dan faktor hereditas lainnya tidak mungkin untuk dimanipulasi, faktor lingkungan seperti nutrisi, aktivitas fisik, vitamin D dan sinar matahari (yang tidak merupakan masalah pada sebagian besar daerah di Indonesia) merupakan hal yang penting untuk dimanfaatkan dalam pengobatan osteoporosis.
Puncak massa tulang optimal pada usia dewasa harus diusahakan agar tercapai dengan menjamin asupan nutrisi yang mengandung cukup kalsium selama masa kanak-kanak sampai pada saat terhentinya pertumbuhan tulang. Latihan fisik yang teratur juga penting untuk meningkatkan massa tulang selama masa pembentukan tulang. Setelah puncak massa tulang tercapai pada masa dewasa, maka asupan kalsium yang adekuat, latihan fisik yang teratur serta menstruasi yang teratur harus tetap dipertahankan selama usia dewasa sampai seseorang memasuki tahap usila.

2.      Pencegahan Osteoporosis Sekunder
Manfaat pencegahan osteoporosis sekunder untuk menghambat kecepatan kehilangan massa tulang pada wanita pasca menopause, pasien yang memerlukan imobilisasi lama atau pasien yang mendapatkan terapi kortikosteroid jangka panjang tanpa gejala osteoporosis klinis saat ini masih bersifat controversial. Hingga saat ini belum diperoleh kesepakatan apakah pencegahan osteoporosis sekunder memiliki manfaat yang cukup memuaskan. Pada keadaan seperti ini, hal terpenting adalah usaha untuk menentukan apakah pasien tersebut memiliki risiko yang cukup tinggi untuk menderita osteoporosis.

Pengobatan Osteoporosis
Pasien osteoporosis yang memerlukan pengobatan umumnya telah mengalami kehilangan massa tulang yang cukup berat sehingga pada umumnya telah mengalami satu atau beberapa kali fraktur tulang. Dengan demikian tujuan utama pengobatan osteoporosis simtomatik adalah mengurangi rasa nyeri dan berusaha untuk menghambat proses resorpsi tulang sampai di atas ambang fraktur. Jika hal ini tidak dapat dicapai dengan regimen terapeutik yang tersedia, maka harus selalu diusahakan agar intervensi pengobatan yang diberikan sekurang-kurangnya dapat menahan progresi kehilangan massa tulang sehingga fraktur yang mungkin terjadi kemudian dapat dicegah.
Beberapa jenis hormon dan agen farmakologi yang umum digunakan dalam pengobatan osteoporosis saat ini akan dibahas di bawah ini.

Terapi Pengganti Hormonal
1.      Estrogen
Istilah terapi pengganti hormonal atau hormon replacement therapy (HRT) digunakan untuk terapi estrogen baik secara tunggal atau dalam bentuk kombinasi dengan progestogen.
Estrogen memiliki sifat anti resorptif yang kuat pada sel tulang dan penurunan kadar estrogen pada saat menopause merupakan penyebab utama kehilangan massa tulang pada wanita. Bagaimana mekanisme estrogen menghambat resorpsi tulang hingga kini masih belum dapat dijelaskan dengan pasti. Diduga hal ini terjadi karena:
1.      Estrogen menurunkan sensitivitas tulang terhadap hormon paratiroid (PTH).
2.      Estrogen meningkatkan produksi kalsitonin.
3.      Estrogen meningkatkan produksi kalsitriol.
Walaupun memiliki sifat anti resorptif yang kuat, estrogen tidak memiliki efek stimulatif terhadap proses formasi tulang. Dengan demikian walaupun estrogen memiliki peran penting dalam pencegahan kehilangan massa tulang, akan tetapi estrogen tidak dapat memperbaiki gangguan arsitektur tulang yang telah terjadi.
Respons peningkatan massa tulang pada penggunaan HRT bergantung pada dosis dan lamanya pemberian estrogen. Pada umumnya pengaruh estrogen baru dapat  terlihat setelah diberikan selama 5 tahun. Dalam pengobatan osteoporosis pasca menopause estrogen harus diberikan selama 10 tahun atau sampai usia 70 tahun, bergantung pada mana yang tercapai lebih dahulu. Setelah 10 tahun HRT harus dievaluasi kembali untuk menentukan apakah pengobatan selanjutnya akan tetap bermanfaat dan aman untuk diteruskan. Pada wanita pasien osteoporosis dengan kehilangan massa tulang yang berat, estrogen sedapat mungkin harus diberikan seumur hidup selama masih efektif dan tidak menimbulkan efek samping. Hal ini disebabkan karena estrogen dapat menurunkan risiko fraktur yang akan terus meningkat jika kehilangan massa tulang berlangsung terus-menerus.
Efek samping estrogen meliputi retensi cairan, nyeri tekan payudara dan sakit kepala. Efek samping ini umumnya jarang dijumpai jika estrogen digunakan bersama progestogen. Efek samping lainnya adalah nausea, kejang otot tungkai, dyspepsia dan perdarahan uterus disfungsional.

2.      Kombinasi Estrogen dan Progestogen
Walaupun dalam dosis yang amat tinggi progestogen dapat menghambat resorpsi dan merangsang formasi tulang, akan tetapi penggunaan kombinasi progestogen siklik pada HRT dimaksudkan untuk mencegah terjadinya efek samping estrogen terutama perdarahan disfungsional uterus dan menekan proliferasi atau keganasan endometrium.
Progestogen yang digunakan dalam HRT dapat diklasifikasikan sebagai derivate 17-hidroksi progestogen seperti medroksiprogesteron asetat serta derivate 19-nortestosteron seperti noretisteron. Derivate 19-nortestosteron umumnya lebih disukai untuk digunakan dalam HRT karena golongan ini memiliki efek samping yang lebih ringan terhadap metabolisme lipid dan fungsi hati. Efek samping progestogen sangat bervariasi dan bergantung pada dosis, androgenisitas dan lama penggunaannya.
Efek samping yang sering kali dijumpai pada wanita yang menggunakan progestogen siklik adalah gangguan metabolisme lipoprotein plasma, retensi cairan, nyeri payudara, sakit kepala, perubahan mood dan akne vulgaris.

Kontra Indikasi HRT
Terdapat beberapa kontra indikasi penggunaan HRT pada osteoporosis. Kontra indikasi ini dapat dibedakan menjadi kontra indikasi absolut dan kontra indikasi relatif seperti yang tercantum pada tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Kontra indikasi HRT
Kontra Indikasi Absolut
Keganasan payudara aktif
Keganasan endometrium aktif
Kehamilan
Perdarahan uterus idiopatik
Penyakit hati berat dan aktif      
Melanoma malignum (?)
Kontra Indikasi Relatif
Hipertensi tidak terkontrol
Migren
Riwayat thrombosis vena
Riwayat emboli paru
Tromboflebitis superficial
Varises
Obesitas
Diabetes melitus
Riwayat kelainan jantung iskemik
Osteosklerosis
Batu empedu
Penyakit hati menahun
Endometriosis
Tumor fibroid
Riwayat keganasan payudara
Perokok berat

Pada keadaan dimana terdapat kontra indikasi absolut, penggunaan HRT harus dihindarkan. Walaupun demikian HRT masih dapat diberikan pada keadaan terdapatnya kontra indikasi relatif jika pasien dapat mengerti risiko yang akan dihadapi dan bersedia untuk mencobanya.

Testosteron
Testosteron merupakan hormon yang sangat penting untuk memelihara integritas tulang pada pria sebagaimana halnya estrogen pada wanita, karena sindroma hipogonadisme juga dapat merupakan penyebab terjadinya osteoporosis baik pada pria maupun pada wanita. Pada pria pasien sindroma hipogonadisme pemberian testosteron terbukti dapat meningkatkan massa tulang dengan merangsang proses formasi tulang. Walaupun testosteron nyata dapat meningkatkan formasi tulang, penggunaan testosteron pada wanita pasien osteoporosis umumnya akan menimbulkan banyak efek samping androgenik. Umumnya testosteron hanya digunakan pada wanita pasien osteoporosis pasca menopause yang menunjukkan gejala penurunan libido yang gagal diatasi dengan pemberian estrogen.

Steroid Anabolik
Steroid anabolik telah banyak digunakan dalam pengobatan osteoporosis. Pemberian nandrolon dekanoat intramuscular terbukti dapat meningkatkan massa tulang yang diduga terjadi akibat stimulasi proses formasi tulang. Selain itu steroid anabolik juga memiliki efek pencegahan resorpsi tulang. Karena steroid anabolik memiliki efek samping androgenik yang tinggi, umumnya obat ini jarang digunakan untuk wanita.
Penggunaan steroid anabolik jangka panjang juga diketahui dapat menyebabkan gangguan fungsi hati sampai terbentuknya keganasan hepatoselular. Karena itu penggunaan steroid anabolik baik pada pria maupun wanita hanya dilakukan jika pasien tidak menunjukkan perbaikan yang memuaskan dengan obat-obatan yang lain dan sebaiknya dilakukan oleh ahli yang telah berpengalaman.

Terapi Non-hormonal
Selain HRT, terdapat pula terapi non-hormonal yang dapat digunakan untuk mencegah dan memperbaiki osteoporosis. Saat ini telah diketahui beberapa agen farmakologis yang dapat berpengaruh pada metabolisme tulang dan memperbaiki osteoporosis seperti kalsitonin, bifosfonat dan kalsium. Obat-obatan ini dapat mencegah atau sekurang-kurangnya dapat menghambat kecepatan kehilangan tulang pada pasien osteoporosis senilis maupun pasca menopause.

Kalsitonin
Peran fisiologis kalsitonin dalam mencegah resorpsi tulang dan regulasi homeostatis kalsium pada manusia masih belum diketahui dengan jelas. Diduga kalsitonin bekerja dengan menghambat aktivitas, lama hidup, recruitment dan pembentukan sel osteoklas baru.
Kalsitonin menghambat tesorpsi tulang sehingga menurunkan kadar kalsium plasma dengan cepat sehingga menyebabkan terjadinya hiperparatiroidisme sekunder transien. Karena itu, untuk mencegah terjadinya respons homeostatic tersebut, kalsitonin umumnya diberikan bersama suplementasi kalsium dan vitamin D.
Kalsitonin diduga dapat menyebabkan terjadinya peningkatan massa tulang, dengan menyebabkan uncoupling antara proses resorpsi dan formasi tulang terutama selama masa dini pengobatan. Kemungkinan hal ini disebabkan karena walaupun resorpsi tulang telah terhambat akan tetapi formasi tulang masih terus berlangsung pada lokasi resorpsi sebelumnya, sehingga dapat diharapkan terjadinya peningkatan massa tulang.
Pengaruh kalsitonin pada osteoporosis tidak berlangsung selamanya. Setelah tahun pertama pengaruh kalsitonin akan menurun secara bertahap sampai akhir tahun kedua. Berkurangnya efek kalsitonin pada penggunaan jangka panjang diduga disebabkan karena terbentuknya atibodi terhadap kalsitonin atau penurunan fungsi reseptor kalsitonin.
Kalsitonin terbukti dapat memberikan efek analgesik akibat osteoporosis terutama pada fraktur kompresi vertebral. Efek analgesik ini umumnya timbul segera dalam 1 atau 2 hari setelah kalsitonin digunakan.
Efek samping kalsitonin yang paling sering dijumpai adalah nausea yang umumnya terjadi segera setelah suntikan diberikan. Nausea dapat diatasi dengan pemberian antiemetik bersama kalsitonin yang keduanya diberikan pada waktu tidur. Efek samping lainnya adalah flushing, muntah, diare dan nyeri lokal pada lokasi suntikan.
Kalsitonin agaknya merupakan obat yang sangat aman dan tidak berinteraksi dengan obat-obat lain yang diketahui. Selama ini tidak terbukti bahwa kalsitonin bersifat toksik pada manusia.

Bifosfonat
Penggunaan bifosfonat pada pasien osteoporosis akan menyebabkan penurunan resorpsi tulang. Hal ini sebagian disebabkan karena bifosfonat akan terikat pada Kristal hidroksiapatit dan mineral tulang lainnya, sehingga Kristal tersebut menjadi lebih resisten terhadap proses hidrolisis enzimatik. Hambatan resorpsi tulang pada penggunaan bifosfonat juga terjadi akibat pengaruh bifosfonat pada sel osteoklas yang dapat menyebabkan terjadinya:
-          Perubahan morfologi sel osteoklas.
-          Penurunan jumlah dan fungsi sel osteoklas.
-          Penurunan recruitment sel osteoklas ke arah lokasi remodeling sehingga menurunkan kedalaman kavitas yang terbentuk akibat erosi.
Penggunaan bifosfonat intermitten pada osteoporosis akan menurunkan kecepatan turn over tulang dan mungkin dapat menyebabkan terjadinya sedikit peningkatan massa tulang terutama pada tulang trabekular. Secara klinis hal ini dapat terlihat dari penurunan insidens fraktur vertebra dan peningkatan kekuatan torsional tulang panjang pada pasien yang menggunakan kalsitonin secara intermitten.
Pengaruh bifosfonat pada tulang dapat bertahan sampai 1 atau 2 tahun walaupun penggunaannya telah dihentikan. Belum diketahui apakah penggunaan klodronat secara terus-menerus akan memiliki khasiat yang lebih baik.
Efek samping bifosfonat yang paling sering dijumpai adalah intoleransi intestinal. Hal ini dapat dicegah dengan membagi dosis total hariannya dalam beberapa kali pemberian.

Kalsium
Walaupun hubungan antara asupan kalsium diet dan kecepatan kehilangan massa tulang begitu jelas, akan tetapi asupan kalsium yang dalam jumlah yang dianjurkan akan dapat meningkatkan kadar kalsium plasma yang selanjutnya akan meningkatkan sekresi kalsitonin, menurunkan kadar PTH, kalsitriol serta menurunkan turn over dan kecepatan resorpsi terutama pada tulang kortikal baik pada masa pra atau pasca menopause. Pengaruh kalsium akan tampak lebih jelas bila pemberian suplementasi kalsium juga disertai dengan peningkatan aktivitas fisik.
Dengan demikian, walaupun manfaat kalsium tidak sebaik estrogen, kalsium penting untuk diberikan kepada pasien yang tidak dapat atau menolak untuk menggunakan estrogen karena faktor umur, kontra indikasi atau efek sampingnya. Pada osteoporosis yang telah berlangsung lama tanpa suplementasi kalsium, risiko fraktur terutama pada panggul akan meningkat dengan bermakna setelah terjadinya fraktur yang pertama. Pada pasien seperti itu suplementasi kalsium sangat penting untuk mencegah terjadinya fraktur berikutnya.
Efek samping kalsium dalam dosis fisiologis seperti meteorismus dan konstipasi umumnya jarang dijumpai dan dapat diabaikan. Walaupun demikian, kalsium sebaiknya tidak diberikan pada pasien dengan peningkatan absorbsi kalsium intestinal, gangguan ginjal sedang atau berat, nefrolitiasis hiperkalsiurik atau sarkoidosis.

Vitamin D dan Metabolitnya
Metabolit vitamin D, kalsitriol bekerja dengan meningkatkan absorbsi kalsium dan fosfat usus, kalsitriol juga meningkatkan resorpsi kalsium dari tulang. Selain itu, kalsitriol juga berperan secara langsung pada sel osteoblas dalam sintesis osteokalsin yang dibutuhkan dalam proses mineralisasi tulang melalui regulasi pertumbuhan Kristal hidroksiapatit. Kalsitriol juga diketahui dapat menurunkan sensitivitas osteoklas terhadap PTH.
Defisiensi vitamin D akan menyebabkan terjadinya hiperparatiroidisme sekunder yang meningkatkan turn over tulang dan kehilangan massa tulang kortikal, menghambat mineralisasi osteoid sehingga juga dapat menimbulkan osteomalasia.
Pasien usila seringkali mengalami defisiensi vitamin D ringan karena keengganan mereka untuk terpajan oleh sinar matahari, menurunnya asupan makanan yang mengandung vitamin D serta penurunan absorpsi intestinal vitamin D. Selain itu pada usila, penurunan fungsi ginjal diduga menyebabkan terjadinya hambatan sekresi enzim 1 α-hidroksilase ginjal, sehingga terjadi hambatan pada konversi kalsitriol menjadi kalsitriol.
Penggunaan kalsitriol sangat bermanfaat pada pasien osteoporosis dengan malabsorpsi kalsium, osteoporosis akibat penggunaan kortikosteroid jangka panjang, osteodistrofi ginjal dan mungkin juga pada osteoporosis pasca menopause.

Tiasid
Tiasid telah diketahui dapat menurunkan ekskresi kalsium urin. Tiasid harus diberikan pada pasien dengan hiperkalsiuria. Juga telah diketahui bahwa pasien usila yang menggunakan tiasid memikiki risiko yang lebih rendah bagi terjadinya  fraktur femoral. Suatu penelitian pada pasien hipertensi pria yang menggunakan hidroklorotiasid juga menunjukkan peningkatan massa tulang jika dibandingkan dengan pasien yang tidak diobati dengan tiasid.

Pengobatan Osteoporosis Eksperimental
Saat ini sedang berjalan penelitian tentang manfaat beberapa jenis obat dalam pencegahan dan pengobatan osteoporosis. Beberapa obat yang masih dalam penelitian tersebut adalah tibolon, fluorida, PTH, tamoksifen dan raloksifen.

Pendekatan Terapi Hormonal dan Farmakologis Osteoporosis
Saat ini terdapat bebagai pendekatan terapi hormonal dan farmakologis bagi pasien osteoporosis yang telah terbukti bermanfaat. Pada gambar 1 digambarkan pendekatan terapeutik dari berbagai obat dan hormon yang digunakan dalam pengobatan osteoporosis.

Terapi Pengganti Hormonal
Beberapa preparat yang umum digunakan dalam HRT adalah:
a.       Estrogen
-          Estrogen terkonjugasi (Premarin, Wyeth Ayerst, tablet 0.625 mg dimulai dari ½ tablet yang kemudian ditingkatkan secara bertahap setelah 2 atau 3 minggu menjadi ¾ tablet sehari sampai mencapai 1 tablet/hari.
-          Estradiol transdermal [Estraderm TTS, 25 (2mg), TTS 50 (4 mg) dan TTS 100 (8 mg), Ciba] dalam dosis 25 sampai 50 mg/hari yang dapat dicapai dengan menggunakan Estraderm TTS patch 25 atau 50 setiap 3 atau 4 hari sekali.
-          Estradiol valerat (Progynova, Schering AG, tablet 2 mg), ½ sampai 1 tablet/hari.
-          Estimilestradiol (Lynoral, Organon, tablet 50 mg) ½  sampai 1 tablet /hari.
Dalam menentukan kecepatan peningkatan dosis, harus selalu diperhatikan keluhan pasien. Jika peningkatan dilakukan terlalu cepat, pasien akan mengalami nyeri pada payudara. Jika nyeri payudara timbul, peningkatan dosis harus ditunda sementara atau dosis diturunkan kembali ke dosis semula.
b.      Progestogen
Pada wanita pasca histerektomi, estrogen dapat diberikan secara terus-menerus, akan tetapi pada wanita yang masih memiliki uterus umumnya estrogen diberikan bersama progestogen. Jika progestogen dihentikan, umumnya wanita akan mengalami withdrawal bleeding. Beberapa preparat progestogen yang umum digunakan dalam hal ini adalah:
-          Noretisteron (Primolut N, Schering AG, tablet 5 mg). Untuk perdarahan disfungsional uterus, noretisteron diberikan dalam dosis ½ sampai 1 tablet sehari selama 3 minggu untuk kemudian dihentikan selama 1 minggu.
-          Medroksiprogesteron asetat (Provera, Upjohn, tablet 2,5 mg). Obat ini diberikan 2 atau 3x1 tablet selama 10, 12 atau 13 hari untuk setiap 21 atau 28 hari estrogen.
c.       Testosteron
Untuk mengatasi osteoporosis akibat sindroma hipogonadisme, umumnya diberikan:
-          Ester testosteron (Sustanon, Organon, ampul 250 mg/ml), diberikan dengan suntikan intramuskular dalam dosis 100-250 mg setiap 3 minggu.

Terapi Non-Hormonal
Agen farmakologis yang digunakan dalam pengobatan non-hormonal pada osteoporosis adalah:
a.       Steroid Anabolik
-          Nandrolon decanoat (Deca Durabolin, Organon, ampul 25 mg/ml). Untuk pengobatan osteoporosis umumnya digunakan dalam dosis 50 mg setiap 2 atau 3 minggu.
b.      Kalsitonin
-          Kalsitonin (Miacalcic, Sandoz, ampul 50 dan 100 IU, metered nasal spray 50 IU dan 100 IU/spray). Dosis efektif kalsitonin SCT parenteral untuk pengobatan osteoporosis berkisar 100 IU/hari, akan tetapi efek analgesik SCT sudah dapat tercapai dalam dosis yang lebih rendah. Kalsitonin umumnya diberikan dalam dosis 50 sampai 100 mg sc/im selama 14 hari untuk kemudian dilanjutkan dengan penggunaan nasal spray 50 sampai 100 IU 3 kali seminggu.
c.       Bifosfonat
-          Klodronat (Ostac-Boehringer Manheim, Bonefos-Leiras, kapsul 400 mg disodium klodronate, ampul konsentrat untuk infuse 300 mg disodium klodronate). Dalam pengobatan osteoporosis, dosis klodronat oral umumnya adalah 400 mg selama 14 hari setiap 3 bulan. Pemberian klodronat harus disertai dengan suplementasi kalsium elemental dalam dosis 800 sampai 1200 mg/hari yang diberikan setiap hari.
d.      Kalsium
-          Kalsium laktat glukonat + kalsium karbonat (Calcium, Sandaz Forte, mengandung 400 mg kalsium elemental.
-          Ossopan (Kenrose, mengandung 176 mg kalsium elemental).
Sebagai suplemen nutrisi, kalsium elemental dalam dosis 800-1200 mg/hari umumnya dapat menurunkan frekuensi fraktur pada wanita dengan osteoporosis vertebral yang jelas.
e.       Vitamin D
-          Alphacalcidol (One-Alpha, Kenrose/Leo, kapsul 0,25 mg dan 1 mg).
-          Rocaltrol (Kalsitriol, Roche, kapsul 0,25 dan 0,50 mg).
Untuk memelihara massa tulang dan mencegah fraktur pada osteoporosis diperlukan alfakalsidol 1 mg/hari atau kalsitriol dalam dosis antara 0.25 mg sampai 1 mg/hari yang diberikan bersama kalsium elemental 800 sampai 1200 mg/hari.

Kesimpulan
Pengobatan osteoporosis meliputi pengobatan hormonal, agen farmakologis dan latihan fisik. Pemilihan obat yang tepat bagi pasien osteoporosis harus dilakukan berdasarkan patogenesis yang mendasarinya. Pemantauan yang teliti dalam interval tertentu sangat diperlukan untuk mencegah timbulnya efek samping pengobatan.
Untuk mencegah osteoporosis yang berat di kemudian hari, usaha pencegahan harus dimulai sejak puncak massa tulang belum tercapai dengan meningkatkan asupan gizi seimbang yang cukup mengandung kalsium dan mineral lain yang diperlukan serta latihan fisik yang teratur dan dimulai sejak masa muda.



DAFTAR PUSTAKA

Hahn BH. Osteopenic Bone Diseases. In: McCarty DJ. Ed. Arthritis and Allied Condition. A Textbook of Rheumatology. Eleventh Ed. Philadelphia: Lea & Febiger. 1989: 1812-41.
Hahn TJ. Metabolic Bone Diseases. In: Kelley WN, Harris ED, Sledge CG. Eds. Textbook of Rheumatology. Forth Ed. Philadelphia: W.B. Saunders Co. 1993: 1593-1627.
Francis RM, Selby PL, Rodgers A, Davison CE. The Management of Osteoporosis. In: Francis RM. Ed. Osteoporosis, Pathogenesis and Management. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. 1990: 145-79.
Kanis JA. Treatment of Generalized Osteoporosis with Inhibitors of Bone Resorption. In: Kanis JA. Osteoporosis. Oxford: Blackwell Science. 1994: 168-95.
Dequecker J, Raspe HH, Sambrook P. Management of Osteoporosis. In: Klippel JH, Dieppe PA. Eds. Rheumatology. St. Louis: Mosby. 1994: 7.34.1-7.34.6.
Isbagio H. Diagnosis dan Pengelolaan Osteoporosis. Dalam: Waspaji, Gani RA, Setiati S, Alwi I. Eds. Bunga Rampai Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1996: 251-67.
WHO Study Group Report. Assesment of Fracture Risk and Its Application to Screening for Postmenopausal Osteoporosis. WHO Technical Report Series 843. Geneve: World Health Organization. 1994.
Daud R. Struktur dan Metabolisme Tulang Serta Hubungannya dengan Patogenesis Osteoporosis. Dalam: Waspaji, Gani RA, Setiati S, Alwi I. Eds. Bunga Rampai Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1996: 268-82.
Tilyard MW, Spears GFS, Thomson J, Dovey S. Treatment of Postmenopausal Osteoporosis with Calcitriol or Calcium. N Eng J Med 1992; 326: 357-62.

No comments:

Post a Comment