Thursday, July 4, 2013

POLA DAKWAH BERDASARKAN OBJEK

Pola dakwah bwerdasarkan objek adalah dakwah yang berfokus pada ma’u sebagai sasaran dakwah. Pola dakwah berdasarkan objek dakwah ini dapat dibagi dalam beberapa pola berikut.

  1. Dakwah Nafsiyah (Dakwah Intrapersonal)
Dakwah nafsiyah atau disebut juga dakwah intrapersonal adalah dakwah yang berfokus pada diri sendiri (bukan dakwah kepada orang lain).
Dakwah nafsiyah merupakan hubungan komunikasi antara jiwa seseorang dengan Allah Swt. Dakwah nafsiyah dapat berbentuk do’a seorang hamba kepada Tuhannya. Dalam hadits Nabi Muhammad Saw yang berasal dari Abu Sa’id al-Khudhriyi ra. “… jika kamu tidak sanggup mencegah kemungkaran dengan tangan dan lisan maka cegahlah dengan hatimu…”. Menurut penulis mencegah kemungklaran dengan hati termasuk dakwah nafsiyah atau dakwah intrapersonal karena dalam hati seseorang terjadi tolak tarik antara ajakan kepada yang baik dan ajakan kepada yang tidak baik. Dalam keadaan tolak tarik ini hati manusia juga yang akan memutuskan ajakan mana yang akan dituruti oleh hatinya apakah ajakan kepada kemungkarang atau ajakan kepada yang ma’ruf. Jika hati seseorang dapat memenangkan kebaikan bearti ia sudah melakukan dakwah nafsiyah. Wallahu a’lam.
 
  1. Dakwah Fardiyah (Dakwah Interpersonal)
Dakwah fardiyah ajakan atau seruan ke jalan Allah yang dilakukan seorang da’i kepada orang lain secara perseorangan dengan tujuan memindahkan mad’u pada keadaan yang lebih baik dan diridhai Allah.
Dalam proses dakwah fardiyah, seorang da’i berusaha lebih dekat mengenal mad’u, menyertainya dan membina persaudaraan dengannya karena Allah.dalam persahabatan ini,da’i berusaha membawa mad’u kepada keimanan, ketaatan, kesatuan dan komitmen pada system kehidupan Islam dan adab-adabnya yang menghasilkan sikap tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan dan membiasakannya beramar ma’ruf nahy munkar.
Merujuk kepada ilmu komunikasi, dakwah fardiyah dapat diidentikkan dengan dakwah interpersonal atau dakwah antar pribadi. Pemahaman tentang dakwah fardiyah ini dapat dirujuk kepada teori peranan komunikasi antar pribadi yang ditulis oleh Johnson (1981) yaitu: pertama, komunikasi antarpribadi dapat membantu perkembangan intelektual dan social masyarakat. Kedua,  komunikasi antar pribadi dapat membantu adanya identitas dan jati diri seseorang. Ketiga, melalui komunikasi antar pribadi kita dapat melakukan pembandingan social terhadap kesan-kesan dan pengertian kita tentang dunia luar kita. Keempat, kesehatan mental seseorang sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi antar pribadi yang terjadi di lingkungan tempat tinggal seseorang.
Dakwah fardiyah adalah dakwah seseorang kepada orang lain. Seorang da’i berdakwah kepada seorang mad’u dengan pendekatan personal atau dari hati ke hati. Dakwah fardiyah bisa dilakukan dengan dengan cara langsung face to face atau dengan cara tidak langsung melalui telpon, pesan singkat (SMS), internet dan lain-lain. Merijuk kepada tulisan Johnson diatas, jika sepakat mengatakan bahwa komunikasi interpersonal identik dengan dakwah fardiyah, maka dakwah fardiyah ini sangat efektif bila dilakukan secara rutin dan berkesinambungan karena seorang da’i akan lebih terfokus perhatiannya kepada seorang atau beberapa mad’u saja. Da’i dapat memantau perkembangan pemahaman dan pengalaman agama mad’u yang menjadi sasarannya mulai dari pemahaman dan pengalaman yang rendah sampai pada pemahaman dan pengalaman agama yang lebih tinggi.
Dakwah fardiyah dapat dilakukan oleh sebagian besar umat Isla karena pendekatan dakwah fardiyah dapat dilakukan secara sangat pribadi dari hati ke hati dan dapat dilakukan di tempat tinggal mad’u tanpa harus melakukan dakwah secara terbuka di depan banyak orang. Dengan kata lain dakwah fardiyah dapat dilakukan oleh setiap orang yang mempunyai kemampuan terbatas, keberanian terbatas dan ruang gerak terbatas. Misalnya da’i dapat menerapkan metode dakwah bi al-Maw’idah al-Hasanah atau bi al-Lisan. Dalam kondisi ini da’i cukup hanya dengan bersikap dan berbicara tentang hal-hal baik-baik saja. Pola dakwah seperti ini sebenarnya sangat mudah dilakukan oleh setiap orang terutama bagi seorang perempuan. Bagi seorang da’i perempuan, misalnya, ia dapat memilih calon mad’u seperti tetangga, teman-teman dekat, teman sekantor, teman sepengajian dan sebagaimya. 
  
  1. Dakwah Fiah (Dakwah Kelompok)
Dakwah fiah atau disebut juga dengan dakwah kelompok dapat diidentikkan dengan komunikasi kelompok. Komunikasi kelompok adalah subdisiplin dari komunikasi lisan. Titik berat perhatian komunikasi kelompok adalah pada kelompok kecil yaitu pada gejala-gejala komunikasi di dalam kelompok-kelompok kecil. Seorang ahli komunikasi kelompok tertarik dengan cara-cara bagaimana individu-individu berkomunikasi dalam berbagai situasi kelompok tatap muka. Ia berusaha untuk lebih memahami proses komunikasi kelompok dan agar dapat meramalkan hasil-hasil komunikasi kelompok dengan tepat.
Berpijak pada pemikiran tersebut, maka dakwah fiah (dakwah kelompok) dapat berbentuk dakwah halaqah yaitu dakwah yang dilaksanakan dalam kelompok-kelompok kecil. Kelompok-kelompok kecil tersebut dapat diaktifkan secara rutin dengan jadwal dan materi yang tersusun rapi. Seorang da’i harus memberi motivasi supaya terjadinya diskusi kelompok yang menyangkut pemahaman, kesadaran dan pengalaman ibadah para anggota kelompok dakwah tersebut. Pada hakekatnya, dakwah fiah dapat mengembangkan diri menjadi beberapa kelompok dakwah yang lain dengan cara setiap anggota dakwah fiah merangkul mad’u yang lain untuk bergabung dalam kelompok dakwah. Begitu seterusnya sehingga dakwah fiah berkembang pesat seperti bola salju.
Dakwah fiah dapat dilakukan di rumah para anggota kelompok atau di mesjid-mesjid. Dakwah fiah dapat terdiri dari anggota perempuan dan dapat juga terdiri dai anggota laki-laki. Kelebihan dari dakwah fiah ini bagi setiap anggota, terutama bagi anggota kelompok perempusn, adalah dakwah fiah bisa menjadi sarana yang dapat mengembangkan kemampuan para anggota melalui diskusi pendalalman materi agama, melatih kecakapan diskusi dan melatih berbicara secara sistematis. Dengan demikian diharapkan setiap anggota mampu berdakwah dalam kelompok-kelompok lain yang lebih besar.
  
  1. Dakwak Jam’iyah (Dakwah Massa)
Konsepsi dan manifestasi dakwah harus bisa merangkul dimensi kerisalahan, kerahmatan dan kesejahteraan dalam kehidupan umat manusia. Sebagai program kerja berjangka panjang, gerakan dakwah membutuhkan banyak sarana, metode dan penunjang yang harus diupayakan berjalan sinergis, integral dan saling melengkapi dalam rangka mewujudkan kemaslahatan hidup umat manusia. Dakwah jam’iyah bisa juga disebut dengan dakwah jamaah yaitu gerakan dakwah yang berbasiskan komunitas atau satuan unit masyarakat untuk menata dan mewujudkan alam kehidupan yang lebih baik sesuai dengan perintah dan sunah-Nya. Dengan demikian dakwah jam’iyah dapat dikatakan sebagai dakwah yang berbentuk organisasi atau pergerakan. Di Indonesia dakwah yang berbentuk organisasi atau pergerakan sudah lama terbentuk sejak Indonesia merdeka, di antaranya dakwah organisasi Mumahammaddiyah, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dll.
Organisasi Muhammaddiyah didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan. Menurut pemikiran beliau Muhammaddiyah merupakan wujud konkrit dari realisasi  pesan al-Qur’an untuk berpegang teguh kepada agama Allah, bersikap dan  memanifestasikan taqwa serta selalu mengajak kepada islam.
Dalam keyakinan K.H Ahmad Dahlan orang yang telah mampu memahami agami Islam sebagai risalah Allah akan mewujudkan ajaran-ajaran Islam melalui perjuangan dengan menggunakan seluruh kemampuannya untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sebagai konsep hidup di tengah-tengah masyarakat. Oleh krena itu umat Islam harus melaksanakan amar ma’ruf nahy munkar.
Muktamar Muhammaddiyah ke-38 tahun 1971 di Makassar menetapkan keputusan yaitu dalam membina masyarakan dengan dakwah slam amar ma’ruf nahy munkar, untuk mencapai maksud dan tujuannya yang paling tepat adalah mengadakan gerakan jamaah dan dengan dakwah jamaah (GJDJ).berikut beberapa prinsip Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ) yaitu:
1.      Fokus utama GJDJ harus diarahkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat local (komunitas) dalam mebobilisasi sumber-sumber lokal. Satuan lokal ini dapat berupa RT, kelompok pengguna air (irigasi), kelompok tani kelompok arisdan, kelompok pengajian dan organisasi organisasi yang menjadi tempat tumbuhnya pengembangan dar interaksi pribadi maupun masyarakat.
2.      Pengembangan kegiatan dan dakwah jamaah harus mengakui adamya variasi dan perbedaan baik antar orang yang terlibat maupun variasi potensi dan permasalahn lokal yang tidak sama. Pengambil keputusan bukanlah sosok yang tunggal melainkan plural yang mencakup individu, keluarga, birokrsi lokal, dll.
3.      Cara mencapai tujuan bersama program pengembangan jamaah dilakukan melalui proses pembelajaran sosial (social learning).
4.      Untuk menjamin efektifitas program berbagai bentuk kegiatan dalam rangka pemberdayaan masyarakat harus terorganisasikan, terkoordinasikan dan terintegrasikan dengan rapi, cermat dan berkelanjutan.
 
  1. Dakwah Umurah (Dakwah Lintas Budaya)
Bapak antropologi budaya, E. B.Taylor, mendefinisikan “budaya sebagai keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kamapuan atau kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh angggota-anggota suatu masyarakat”. Untuk memahami dakwah umurah atau disebut juga dengan dakwah intas budaya, kita harus memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan komunikasi lintas budaya, karena dakwah umurah diindintikkan dengan komunikasi lintas budaya. Komunikasi lintas budaya bisa juga disebut komunikasi antar budaya yaitu komunikasi yang terjadi antar orang-orang yang berbeda budaya. Artinya communicator dan comunican berasal dari budaya yang berbeda. Dalam proses komunikasi antar budaya tersebut terlibat peranan dan fungsi budaya. Budaya sangat mempengaruhi orang-orang yang sedang berkomunikasi.
Berpijak pada pemikiran tersebut, dalam proses dakwah lintas budaya, seorang da’i harus memperhitungkan peranan dan fungsi budaya. Ketika berdakwah, da’i harus mengetahui terlebih dahulu calon mad’unya berasal dari budaya apa. Oleh karena itu, da’i harus mempelajari ilmu antropologi sehingga da’i  lebih mudah menghadapi mad’unya yang datang dari berbagai latar belakang budaya yang maksimum dan perbedaan budaya yang minimum antara budaya yang satu dengan budaya yang lain bahkan antar sub-sub budaya. Kita dapat mengambil contoh perbedaan budaya yang sangat mencolok seperti perbedaan maksimum antara budaya Barat dan Budaya Timur, khususnya Asia, seperti penampakan fisik, agama, filsafat, sikap-sikap social, bahasa, pusaka, konsep-konsep dasar tentang diri dan alam semesta dan derajat perkembangan teknologi. Sementara itu, perbedaan minimum dapat dilihat pada budaya Indonesia dan Malaysia. Perbedaan kedua budaya ini sangat sedikit. Dari segi fisik serupa, bahasa serupa, filsafat dan agama serupa dan lain hamper serupa.




DAFTAR PUSTAKA

Ali Abdul Halim Mahmud, Dakwah Fardiyah; Metode Membentuk Pribadi Muslim, terj. As’ad Yasin, (Jakarta: Gema Insani, 2004), Hal. 29.

Alvin A. Goldbertg dan Carl E. Larsson, Komunikasi Kelompok, Terj. Koesdarini Soemiati dan Gary R. Yusuf, (Yakarta: UI – Press, 1985), Hal. 11

Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat (Editor), Komunikasi Antar Budaya, Cet. Ke-9 (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hal. 56.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dakwah Kultural Muhammadiyah, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2005), hal 100.


Supratiknya. A, Komunikasi Antar Pribadi; Tijauan Psikologis, (Yogyakarta: Kanisius, 19950 Hal. 9.

1 comment:

  1. Do you want to know the casino games you play at - TrickToAction
    What is the best and most popular online slots 일문공 우회접속 games? A 토토 갤러리 casino game offers you the 벨라가르텐 chance to try your luck at 안전 사이트 one of the most exciting slots games on the 토토사이트 소스 샤오미 market

    ReplyDelete