Monday, February 1, 2016

UPAYA MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN MELALUI KONFRONTASI



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Perang adalah sengketa bersenjata antara dua Negara atau lebih, yang dilaksanakan oleh Angkatan Bersenjata masing-masing negara dan diatur dalam Hukum Internasional.[1]
Terdapat perbedaan mengenai peristiwa-peristiwa yang melibatkan penggunaan pasukan bersenjata akan tetapi hanya dipakai dalam bentuk dan jumlah yang terbatas, yang tidak mempengaruhi tingkat perdamaian antar kedua negara; serta  bentuk-bentuk penggunaan pasukan bersenjata yang memang merupakan perang.
Pada tanggal 17 Agustus 1960 Republik Indonesia secara resmi memutuskan hubungan diplomatik dengan Pemerintah Kerajaan Belanda. Melihat hubungan yang tegang antara Indonesia dengan Belanda ini maka dalam Sidang Umum PBB tahun 1961 kembali masalah ini diperdebatkan. Pada waktu terjadi ketegangan Indonesia dengan Belanda, Sekretaris Jenderal PBB U Thant menganjurkan kepada salah seorang diplomat Amerika Serikat Ellsworth Bunker untuk mengajukan usul penyelesaian masalah Irian Barat.
Pada bulan Maret 1962 Ellsworth Bunker mengusulkan agar pihak Belanda menyerahkan kedaulatan Irian Barat kepada Republik Indonesia yang dilakukan melalui PBB dalam waktu dua tahun. Akhirnya Indonesia menyetujui usul Bunker tersebut dengan catatan agar waktu dua tahun itu diperpendek. Sebaliknya Pemerintah Kerajaan Belanda tidak mau melepaskan Irian bahkan membentuk negara “Boneka” Papua. Dengan sikap Belanda tersebut maka tindakan bangsa Indonesia ditingkatkan menjadi konfrontasi.[2]
Dalam mempersiapkan pembentukan negara RIS, pada tanggal 15-16 Desember 1949, Moh. Roem memimpin sidang Panitia Pemilihan Nasional (PPN) di Jakarta. Keputusan siding PPN yaitu memilih Ir.Soekarno sebagai Presiden RIS dan Drs. Moh.Hatta sebagai wakilnya, dan sebagai pemangku jabatan (acting) Presiden Republik Indonesia yaitu Mr.Asaat. Pengakuan kedaulatan dilaksanakan tanggal 27 Desember 1949 di tiga tempat, yaitu di Belanda, Jakarta, dan Yogyakarta.[3]

B.     Perumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah adalah:
a.       Apakah yang dimaksud konfrontasi?
b.      Berapakah peristiwa yang terjadi di Indonesia dalam konfrontasi?
c.       Peristiwa apa-apa saja yang terjadi dalam konfrontasi?

C.    Tujuan Masalah
            Yang menjadi tujuan dari permasalahan adalah:
a.       Untuk  mengetahui maksud dari konfrontasi.
b.      Untuk  mengetahui berapakah peristiwa yang terjadi di Indonesia dalam konfrontasi.
c.       Untuk mengetahui peristiwa apa-apa saja yang terjadi dalam konfrontasi.

D.    Manfaat Masalah
            Manfaat dari permasalahan adalah sebagai berikut:
a.       Kita dapat mengetahui maksud dari konfrontasi.
b.      Kita dapat mengetahui berapa peristiwa yang terjadi di Indonesia dalam konfrontasi.
c.       Kita dapat mengetahui peristiwa apa-apa saja yang terjadi dalam konfrontasi.



BAB II
PEMBAHASAN

Upaya Mempertahankan Kemerdekaan Melalui Konfrontasi
Dalam mempersiapkan pembentukan negara RIS, pada tanggal 15-16 Desember 1949, Moh. Roem memimpin sidang Panitia Pemilihan Nasional (PPN) di Jakarta. Keputusan siding PPN yaitu:
1.      Memilih Ir.Soekarno sebagai Presiden RIS dan Drs. Moh.Hatta sebagai wakilnya.
2.      Sebagai pemangku jabatan (acting) Presiden Republik Indonesia yaitu Mr.Asaat.[4]

Pengakuan kedaulatan dilaksanakan tanggal 27 Desember 1949 di tiga tempat, yaitu di Belanda, Jakarta, dan Yogyakarta.

a.    Di Belanda
Ratu Yuliana, Perdana Menteri Williem Drees, dan Menteri Seberang Lautan Mr. Sassen menyampaikan pengakuan kedaulatan kepada Moh.Hatta.

b.      Di Jakarta
Wakil Tinggi Mahkota Belanda A.J.H.Lovink menyampaikan pengakuan kedaulatan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

c.       Di Yogyakarta
Penyerahan kedaulatan RI kepada RIS dilakukan oleh pejabat Presiden Mr. Asaat kepada A. Mononutu (Menteri Penerangan RIS) Usaha melalui aktivitas diplomasi belum membawa hasil, maka strategi lain yang dilakukan bangsa Indonesia adalah melalui aktivitas bersenjata.

·         Konfrontasi di Indonesia
Dalam hal ini terjadinya konfrontasi demi mempertahankan kemerdekaan. Konfrontasi adalah Bentuk konflik bersenjata antara dua Negara atau lebih sering disebut dengan istilah “perang(war).[5] Ada 9 peristiwa terjadinya konfrontasi di Indonesia, yaitu:

1)      Insiden Bendera di Surabaya
Di Surabaya pada tanggal 19 September 1945 terjadi peristiwa yang terkenal dengan sebutan Insiden Bendera di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya. Beberapa orang Belanda bertindak gegabah, mereka mengibarkan bendera Belanda Merah Putih Biru di tiang bendera Hotel Yamato. Tindakan tersebut menimbulkan kemarahan rakyat yang kemudian menyerbu hotel itu dan menurunkan bendera tersebut serta merobek bendera yang berwarna biru dan mengibarkan kembali sebagai bendera Merah Putih.

2)      Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya
Pada tanggal 9 November 1945 komandan tentara Sekutu mengeluarkan ultimatum sehubungan meninggalnya tentara Sekutu dari Inggris bernama Brigjen A.W.S. Mallaby. Isi ultimatum tersebut adalah “Semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus menyerahkan diri selambat-lambatnya tanggal 10 November 1945 pukul 06.00.” Ternyata rakyat Surabaya tidak menggubris sama sekali ultimatum tersebut. Berbekal kebenaran dan keadilan dengan semangat membela dan mempertahankan kemerdekaan rakyat Surabaya bertempur pantang menyerah. Dalam pertempuran ini arek-arek Surabaya dipimpin oleh Bung Tomo dan Gubernur Jawa Timur R.A. Suryo.



3)      Bandung Lautan Api
Pada tanggal 17 Oktober 1945 pasukan Sekutu memasuki kota Bandung. Selanjutnya Sekutu mengeluarkan ultimatum agar Bandung Utara dikosongkan dan seluruh senjata rakyat diserahkan kepada Sekutu, tapi ultimatum tersebut disambut dengan pertempuran. Pada tanggal 23 Maret 1946 Sekutu mengeluarkan ultimatum kedua. Sekutu menuntut agar rakyat mengosongkan seluruh kota Bandung. Ultimatum tersebut juga disambut dengan pertempuran. Namun pada saat pertempuran belangsung, pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan instruksi agar TRI mengosongkan kota Bandung. Sebelum meninggalkan kota Bandung, TRI dan rakyat membumihanguskan kota Bandung Selatan.

4)      Pertempuran Medan Area
Pada tanggal 9 Oktober 1945 pasukan Sekutu yang diboncengi NICA mendarat di Medan. Mereka mencoba merebut seluruh kota Medan dan sekitarnya. Rongrongan pasukan Sekutu tersebut tidak dibiarkan, maka pada tanggal 13 Oktober 1945 meletus pertempuran besar yang disebut Pertempuran Medan Area.

5)      Pertempuran Ambarawa
Pasukan Sekutu dengan berbagai cara bermaksud membantu NICA untuk menjajah kembali Indonesia. Sehingga pertempuran hebat meletus di Ambarawa, dan menewaskan Komandan Resimen Banyumas yang bernama Letkol Isdiman. Pada tanggal 12-15 Desember 1945 pertempuran bertambah seru, sehingga Panglima Divisi Banyumas, Kolonel Sudirman mengambil alih pimpinan, pasukan diusir dan melarikan diri ke Semarang. Kemudian setiap tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Infanteri.

6)      Pertempuran Merah Putih di Minahasa
Latar belakang terjadinya peristiwa itu adalah pasukan Sekutu melarang rakyat Minahasa untuk mengibarkan bendera Merah Putih. Di bawah pimpinan C.H.Taulu, rakyat Minahasa bertempur melawan Sekutu. Ternyata mereka berhasil mempertahankan tetap berkibarnya bendera merah putih.

7)      Puputan Margarana
Pada tanggal 2-3 Maret 1946 Belanda mendarat di Pulau Bali. Kedatangan Belanda tersebut bermaksud untuk menguasai Pulau Bali. Oleh karena itu pada tanggal 18 November 1946 meletus pertempuran di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai. Pertempuran tidak seimbang, sehingga rakyat Bali mengadakan Perang Puputan, yang artinya perang habis-habisan di Margarana. I Gusti Ngurah Rai dan seluruh anak buahnya gugur sebagai kusuma bangsa.

8)      Peristiwa Westerling di Makassar
Disebut sebagai Peristiwa Westerling, karena pasukan Belanda dipimpin Kapten Raymond Westerling mengadakan pembunuhan massal terhadap rakyat Sulawesi Selatan pada tanggal 7-25 Desember 1947. Salah satu korban keganasan Westerling adalah gugurnya Wolter Monginsidi.

9)      Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang
Pada tanggal 1 Januari 1946 diadakan perundingan antara Belanda dan rakyat Palembang. Sewaktu perundingan sedang berlangsung, meletus pertempuran. Dalam pertempuran tersebut para pejuang Republik Indonesia berhasil menenggelamkan kapal pemburu di Sungai Musi dan melumpuhkan tank-tank milik Belanda. Akhirnya pada tanggal 6 Januari 1946 kedua belah pihak mengadakan gencatan senjata.[6]

  
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Konfrontasi adalah Bentuk konflik bersenjata antara dua Negara atau lebih sering disebut dengan istilah “perang(war). Ada 9 peristiwa terjadinya konfrontasi di Indonesia, yaitu:
1)      Insiden Bendera di Surabaya
2)      Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya
3)      Bandung Lautan Api
4)      Pertempuran Medan Area
5)      Pertempuran Ambarawa
6)      Pertempuran Merah Putih di Minahasa
7)      Puputan Margarana
8)      Peristiwa Westerling di Makassar
9)      Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang

B.     Saran
            Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari masih banyak kekurangan dari kesempurnaan, maka agar makalah ini sempurna mohon kritik dan saran dari pembaca, dan penulis mengucapkan terimakasih.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmed Sungkoro. Sejarah Pertahanan Indonesia. (Surabaya. Alfabeta. 2004)


Marheta.Diana. Sejarah Indonesia. (Surabaya. Alfabeta. 2002), Hal. 146

Nasution Ahmad. Dasar-dasar Sejarah Kemerdekaan Indonesia. ( Bandung. Tarsito, 1988)

Ibid. Hal. 235

Sungkoro. Adji. Pertahanan Kemerdekaan Indonesia. (Bandung. Tarsito. 2002)



[1] Ahmed Sungkoro. Sejarah Pertahanan Indonesia. (Surabaya. Alfabeta. 2004), Hal. 192
[2] Nasution Ahmad. Dasar-dasar Sejarah Kemerdekaan Indonesia. ( Bandung. Tarsito, 1988), Hal. 232

[3] Ibid. Hal. 235

[5] Marheta.Diana. Sejarah Indonesia. (Surabaya. Alfabeta. 2002), Hal. 146


[6] Sungkoro. Adji. Pertahanan Kemerdekaan Indonesia. (Bandung. Tarsito. 2002), Hal. 268